Selasa, 09 Oktober 2012

Dongeng



Saktinya Pancasila
Di satu desa tinggallah seorang janda bernama Cut Nyak Dien. Dia memiliki anak kembar bernama Panca dan Sila yang berumur 5 tahun, hasil pernikahannya dengan Ahmad Yani. Suaminya meninggal dunia akibat dibunuh oleh Adam Malik. Pembunuhan itu terjadi karena Adam Malik cemburu kepada Ahmad Yani. Adam Malik sangat mencintai Cut Nyak Dien. Dia tidak rela Cut Nyak Dien menikah dengan Ahmad Yani. Sedangkan Adam Malik pun juga sudah menikah dengan Cut Nyak Meutia dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik jelita berumur 3 tahun. Istrinya meninggal dunia akibat pertengkaran dengan Adam Malik. Kini Adam Malik masih mencintai Cut Nyak Dien dan berencana ingin membunuh anak kembarnya tersebut. Beribu-ribu cara yang dilakukan Adam Malik, satupun tidak ada yang berhasil.

20 tahun kemudian Panca dan Sila tumbuh dewasa, Panca menjadi lelaki yang tampan dan gagah. Sedangkan Sila menjadi perempuan yang cantik jelita, paras yang sama cantiknya dengan Fatmawati anak dari Adam Malik dan istrinya.

Panca dan Sila tidak terpisahkan, mereka selalu bersama-sama. Mencari kayu di hutan, membantu ibunya memasak, dan sebagainya. Mereka tidak kenal lelah dan putus asa. Tiba di suatu malam saat mereka sedang bersenda gurau bersama, Panca bertanya kepada ibunya. “Bu, sejak kami kecil hingga menjadi dewasa seperti sekarang ibu tidak pernah menceritakan kenapa ayah meninggal” kata Panca. “Iya bu, kenapa?” Sila pun bertanya. Ibu mereka akhirnya menceritakan semuanya. Setelah mendengar cerita dari ibunya, hati Panca dan Sila terasa berapi. Mereka tidak percaya bahwa ayahnya meninggal karena dibunuh oleh Adam Malik. Sejak detik itu mereka ingin membalas semua perbuatan Adam Malik. Mereka meminta ijin kepada ibunya untuk mencari dimana Adam Malik berada. awalnya Cut Nyak Dien tidak setuju jika anaknya berurusan dengan Adam Malik, dia tahu bahwa Adam Malik sedang mengincar anak kembarnya itu. Namun karena bujuk rayu kedua anaknya, dia pun mengijinkan mereka pergi.

Keesokan harinya mereka meminta restu kepada ibunya dan membalaskan penderitaan ibunya selama bertahun-tahun. “Hati-hati anakku, kalian tahu bahwa Adam Malik adalah orang yang kejam. Ibu takut....” belum selesai Cut Nyak Dien berbicara, Panca langsung memeluk ibunya. “Ibu jangan khawatir, doakan kami agar selamat dalam perjalanan. Doa ibu adalah kekuatan bagi kami”. Panca menenangkan hati ibunya. “Iya bu, mas Panca benar. Ibu jangan khawatir” kata Sila yang sambil memeluk ibunya. Setelah itu, mereka pergi untuk melaksanakan tujuan mereka.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang wanita yang sedang terluka akibat terjatuh dari kuda yang ditungganginya. Panca dan Sila langsung menghampiri wanita itu. Sungguh terkejutnya Panca setelah melihat paras cantiknya. Dia adalah Fatmawati, anak Adam Malik sang pembunuh ayah mereka. Namun Panca dan Sila tidak mengetahuinya, tapi Fatmawati tahu bahwa mereka ingin membunuh ayahnya.

Fatmawati memang sangat cantik, sehingga Panca terpana oleh kecantikkannya. Fatmawati mengetahui bahwa Panca terpikat padanya.  “Kamu terluka, biar aku obati” kata Sila. Sila membuat ramuan untuk mengobati luka, Sila memang pintar dalam meramu obat-obatan. Setelah lukanya sudah ditangani, mereka bersama-sama melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan Panca tidak bersuara, hanya Sila dan Fatmawati yang selalu berbincang. Fatmawati memiliki ilmu membaca pikiran dan tujuan orang. Fatmawati yang mengetahui rencana Panca dan Sila berusaha membunuh mereka di tengah hutan.

Panca yang berjalan di depan tidak mengetahui niat buruk Fatmawati. Fatmawati mencoba menerkam Sila dengan belati yanng dibawanya. Dengan cepat Sila dapat menghindar dari Fatmawati. Melihat kejadian itu Panca langsung berusaha menyelamatkan adiknya dan menghadapi perlawanan dari Fatmawati. “Aku tahu tujuan kalian sebenarnya, kalian ingin membunuh ayahku Adam Malik bukan!” kata Fatmawati. “Oh jadi kamu mengetahui rencana kami. Ya, memang benar kami ingin membunuhnya. Karena dia sudah membunuh ayah kami!” kata Panca. “Kalian tidak akan bisa membunuh ayahku karena kalian lah yang akan mati!!” tantang Fatmawati. Perkelahian antara Panca dan Sila yang melawan Fatma pun berlangsung. Luka-luka yang menghiasi kulit mereka menjadi saksi pertarungan hebat. Akhirnya Fatmawati pun tewas ditangan Panca dan Sila. Mereka berhasil membalas perbuatan yang dilakukan oleh Adam Malik kepada ayahnya.

Mengetahui anaknya tewas ditangan Panca dan Sila, Adam Malik langsung menyiapkan pasukan untuk membunuh Panca dan Sila. Namun, kesaktian Panca dan Sila tidak mudah untuk dikalahkan. Semua pasukan Adam Malik tewas melawan Panca dan Sila. Dengan geramnya Adam Malik langsung turun tangan. Perkelahian hebat pun berlangsung. Kekuatan mereka sama-sama hebat, namun tidak sehebat kesaktian yang dimiliki oleh Panca dan Sila. Berita dari seberang terdengar oleh Cut Nyak Dien, dia merasa khawatir jika seandainya anak kembarnya tewas ditangan Adam Malik. Dia tidak sanggup jika kehilangan orang yang dia sayangi untuk kedua kalinya.

Keesokan harinya Cut Nyak Dien melihat bayangan kedua anaknya dari kejauhan. Anaknya telah kembali dan berhasil membalaskan penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Akhirnya mereka hidup tentram, bahagia, sejahtera dan  damai.